Lanjut ke konten

Fisika

Klik and Download Ini Link nya
http://www.4shared.com/file/T4cqomkY/miftahul_ikhsan_x7_optika.html?

Kelompok 1
Fadhil M
Miftahul Ikhsan
Rully Ashari
Ahmad Muhammad

Tugas FISIKA kelompok 1

miftahul ikhsan x7 optika

Maulid

Hadiri dan Ikutilah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW @SMAN 09 MAKASSAR
Tanggal : 01 – 03 – 2012
Pukul 09 WITA-selesai

WAG’s: Coleen Rooney – Putri Tukang Batu Yang Jadi Milyarder

Menjadi pasangan pemain sepak bola tidak hanya efektif untuk mengatrol popularitas. Asal pintar dan jeli memanfaatkan peluang, menjadi Wives And Girlfriends (WAGs) merupakan tiket untuk menjadi kaya raya dan hidup serba mewah. Siapa yang mengenal Coleen McLoughlin tujuh tahun lalu ? Sebelum kekasihnya, Wayne Rooney direkrut raksasa Premier League Manchester United pada 2004, tidak ada yang mengetahui kiprah wanita berusia 24 tahun tersebut. Namun, kini namanya lebih dikenal sebagai sosialita papan atas Inggris yang selalu tampil di pesta-pesta kalangan jetset. Tidak bisa dimungkiri, nama Coleen Rooney memang melejit seiring dengan kesuksesan suaminya Wayne Rooney menahbiskan diri sebagai striker top Inggris. Namun meroketnya popularitas Coleen tidak membuat putri dari pasangan tukang batu dan perawat bayi itu berpangku tangan. Coleen dengan cerdik memanfaatkan status WAGs alias pasangan pemain sepak bola yang dia sandang untuk menambah pundi-pundi pound sterling. Sejak kecil, sulung di antara empat bersaudara itu memang sangat tertarik dengan bidang fashion. Salah satunya, dia rajin mengikuti lomba busana yang diselenggarakan di tengah acara pacuan kuda Grand National, yang lebih dikenal sebagai Aintree Ladies Day. Karena itu, setelah popularitasnya terangkat berkat Wayne Rooney, Coleen tidak sulit mendapatkan proyek-proyek yang berhubungan dengan mode. Dari kesibukannya, wanita yang mengawali karir sebagai presenter itu mengumpulkan kekayaan pribadi GBP 8 juta (sekitar Rp 113,5 miliar). Jumlah itu memang tidak ada apa-apanya dengan total kekayaan sang suami yang disebut-sebut mencapai GBP 30 juta (sekitar Rp 425,7 miliar). Tapi, setidaknya, itu membuktikan bahwa Coleen tidak mau hanya bergantung pada uang Wayne Rooney.

Analisis Puisi

TAK DIKENAL A. Jenis Puisi Puisi “PAHLAWAN TAK DIKENAL” karangan Toto Sudarto Bachtiar merupakan puisi periode 1953 – 1961. Puisi yang ditulis Toto Sudarto Bachtiar ini termasuk puisi diafan. Kata dan kalimat yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca, sehingga pembaca lebih mudah menangkap inti sari atau isi puisi PAHLWAN TAK DIKENAL ini. Untuk diketahui, Toto Sudarto Bachtiar dalam menyusun puisi ini memudahkan pembaca memahami bahkan mengambil makna yang terkandung dalam puisi ini. Puisi “PAHLAWAN TAK DIKENAL” selain merupakan jenis puisi diafan juga merupakan jenis puisi ide. Hal itu dapat dilihat dari adanya ide atau gagasan yang dibawa oleh Toto Sudarto Bachtiar dalam menulis puisi ini. Dengan membaca puisi ini pembaca akan dapat mengetahui bahwa puisi ini mempunyai ide atau gagasan yang mendasari penyusunanya. Ide yang ingin disampaikan pengarang lewat puisi ini adalah kecintaan terhadap tanah air. Kita sebagai warga negara harus dapat berpikir untuk dapat memberikan yang terbaik demi kemerdekaan atau kemajuan negeri tercinta Indonesia. B. Bahasa Puisi karangan Toto Sudarto Bachtiar ini sangat enak dibaca dan dipahami. Bahasa yang dipakai pengarang untuk menuangkan pikiran dan idenya sangat indah. Hal itu dapat kita lihat ketika membaca judul dari puisi ini “PAHLAWAN TAK DIKENAL”, ketika pembaca mulai membaca dan memahami dari judul saja, pembaca akan merasa tertarik untuk melanjutkan pembacaanya. Puisi ini juga tergolong ringan dalam artian pembaca tidak perlu pusing untuk memahami isi dari puisi karangan Toto Sudarto Bachtiar ini. Ketika pembaca melihat dan membaca puisi ini, pembaca akan menangkap bahwa puisi ini termasuk puisi perjuangan khususnya untuk mengenang peristiwa sejarah yakni 10 November. Dalam bait pertama : Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Jelas bahwa pemakaian bahasa yang digunakan Toto Sudarto Bachtiar sangat indah, lugas, dan menarik. Dari contoh bait pertama, pembaca dapat merasakan bahasa-bahasa yang dipilih atau pilihan katanya mudah dipahami dan menutun pembaca untuk segera menyelesaikan pembacaanya sampai bait terakhir. Dalam puisi ini tidak ada kata, frasa, kalimat yang susah dipahami. Selain itu puisi ini juga ditulis dengan bahasa baku sehingga menambah mudah dalam pemahamanya. C. Tipografi Secara garis besar atau keseluruhan puisi karya Toto Sudarto Bachtiar ini terdapat 5 bait yang masing-masing bait terdiri atas 4 baris. Toto Sudarto Bachtiar sangat konsisten dalam menyusun kalimat tiap-tiap bait. Tiap baris dalam paisi ini terdiri atas 4 –9 kata yang strukturnya sangat konsisten. Toto Sudarto Bachtiar juga sangat konsisten dalam penggunaan huruf kapital. Dapat dilihat dalam puisi tersebut pengarang menggunakan huruf kapital pada setiap awal baris pada seluruh puisi. Hal ini menunjukan bahwa Toto Sudarto Bachtiar sangat teguh dan konsisten dalam penggunan jumlah baris, bait bahkan pemakaian huruf kapital dalam menulis judul puisi ini, semua menggunakan huruf kapital untuk memudahkan pembaca dalam pembacaanya. Hal ini juga dimaksudkan agar pembaca dapat dengan jelas memahami judul puisi ini. Bait pertama dst. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur sayang, Sebuah lubang peluru besar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Terlihat bahwa pengarang konsisten sekali dalam hal tipografi. Pengarang memakai penulisan urut dari samping kiri, hal ini juga sama dengan bait-bait berikutnya. Tipografi yang menonjol lainnya yakni pemisahan antar bait, pengarang menyusun karya ini dengan menulis 4 baris 4 baris pada tiap–tiap bait. Hal ini dimaksudkan agar pembaca tidak merasa jenuh dan memudahkan dalam pembacaanya. Sekilas kita lihat puisi karya Toto Sudarto Bachtiar ini sangat rapi dikarenakan tipoografinya sangat konsisten dan pembaca merasa mudah dan tertarik untuk membacanya. D. Enjambemen Dalam bait pertama: Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur sayang, Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang • Kita perhatikan baris kedua, diakhir baris kedua terdapat tanda ( , ) koma. Tanda ini seakan-akan mempertegas dan memudahkan pembaca dalam memahami pembacaanya. Tanda koma ini menekankan bahwa baris pertama dan kedua terdapat hubungan isi, dapat dituliskan sepuluh tahun yang lalu dia terbaring/tetapi bukan tidur sayang, sebuah lubang peluru bundar di dadanya. Dapat dipahami pengarang meletakan tanda koma diakhir baris kedua agar pembaca dapat dengan mudah menarik makna bahwa seorang pahlawan yang diceritakan dalam puisi ini sudah meninggal. • Pada baris keempat tanda koma terletak diantara dua klausa “senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang”. Mempertegas bahwa seakan-akan pahlawan yang sudah tiada tersebut ingin mengungkapkan perasaanya, kita sedang perang. Dalam bait kedua Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lenganya memeluk senapang Dia tidak tahu untuk sapa dia datang Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang • Kita perhatikan pada baris keempat, tanda koma terletak diantara dua klausa ”kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang”. Tanda ini juga bersifat menekankan dan memperjelas bahwa pahlawan tersebut sudah meninggal. Terlebih ada klausa yang diulang dari bait pertama baris kedua ke bait kedua baris keempat. Unsur penekanan yang diwakili oleh tanda koma ini dimaksudkan oleh pengasrang agar pembaca dapat memahami dengan mudah makna atau isi puisi ini, khususnya bait pertama dan kedua. Dalam bait keempat Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tetapi yang nampak wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya • Baris pertama, hari itu 10 November, hujanpun mulai turun. Tanda koma yang terdapat pada baris pertama ini mengisyartkan bahwa pahlawan yang dimaksudkan pengarang dikenang pada peringatan hari pahlawan 10 November, tidak lupa pula tanda koma ini sangat membantu pembaca untuk memahami makna khususnya pada bait keempat baris pertama, ketika peringatan 10 November hujan turun. • Baris keempat. Mengapa terdapat tanda ( . ) titik di tengah-tengah kalimat?, tanda titik ini dipakai pengarang untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa pahlawan yang dikenang pada 10 November tersebut pahlawan yang tidak dikenal yang gugur saat perang. Dalam bait kelima Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda • Untuk diketahui bait kelima sama dengan bait pertama, akan tetapi ada sedikit hal yang membedakanya yakni tanda titik dua ( : ) dan klausa setelahnya. “senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda”. Mengapa Toto Sudarto Bachtiar mengulang tulisanya kembali di bait kelima dan manambahkan klausa “aku sangat muda” ? Inti sari karya ini memang termuat dalam bait pertama dan kelima. Pengarang menempatkan tanda titik dua ( : ) diakhir puisinya sebelum “aku sangat muda” mengandung artian bahwa pahlawan yang gugur ketika perang, dikenang pada 10 November yang pada dasarnya pahlawan-pahlwan tersebut masih dalam usia muda. E. Makna dan Rasa Kata 1. Makna Harfiah / Horistik Ketika pembaca memulai pembacaanya tanpa memperhatikan makna yang terkandung di dalamnya, makna yang dapat diambil dari karya Toto Sudarpo Bachtiar ini adalah ada seorang pahlawan yang tidak diketahui namanya, dikarenakan dalam judul tertulis pahlawan tak dikenal. Ia sedang berbaring sepuluh tahun lamanya tetapi tidak tidur. Di dalam tubuh pahlwan tersebut terdapat lubang peluru sambil berkata ia sedang perang. Pahlawan tersebut tidak tahu kapan dia datang dan tidak tahu untuk siapa dia datang, bahkan ia pun memeluk senapan dan terbaring tetapi tidak tidur. Wajah pahlawan tersebut sunyi/sedih setengah tengadah diibaratkan menangkap sepi padang senja tanpa memperhatikan suara menderu. Pahlawan tersebut masih muda. Pada tanggal 10 November yang kebetulan saat itu hujan turun, banyak orang yang memandangnya sambil membawa karangan bunga, tetapi yang nampak wajah-wajah sendiri yansg tidak dikenal. 2. Makna Hermeunitik Makna hermeunitik adalah makna yang tekandung dalam sebuah karya. Puisi Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar ini mengandung makna/ menceritakan seorang pahlawan yang gugur saat perang. Pahlawan tersebut gugur dalam usia muda. Pengarang menggambarkan pahlawan yang gugur tersebut karena tertembak peluru yang menyarang di dadanya sambil memeluk senapan/senjata dan gugur dalam keadaan bangga (senyum) karena gugur di medan perang untuk membela tanah air. Pengarang juga menggambarkan bahwa pahlawan yang gugur tersebut merasakan bangga di alam sana. Hal itu ditampilkan pengarang dalam puisi ini pada bait ketiga yakni: Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda Walaupun pahlawan tersebut gugur dimedan perang pada usia muda, namun kebanggaan tersendiri tertanam di hati pahlawan tersebut. Ia meninggal karena perjuangan demi mempertahankan tanah air. Karena cintanya kepada tanah air, pada tanggal 10 November atau hari pahlawan, banyak peziarah membawa karangan bunga untuk mengenang perjuangan yang sudah dilakukan oleh pahlawan tersebut walaupun tidak bisa mengenal nama satu per satu. 3. Rasa Kata Pengarang dalam menuangkan idenya lewat kata, kalimat sangat indah dan bersifat denotatif. Denotatif dalam artian makna sebenarnya. Pembaca tidak perlu kesulitan untuk mengartikan satu per satu kata yang dipilih oleh pengarang dalam karya ini. Walaupun bersifat donotatif akan tetapi rasa indah yang dimiliki oleh puisi ini sangatlah terasa. F. Nada dan Suasana 1. Nada Dalam karya Toto Sudarto Bachtiar ini, nada sajak sangatlah terasa.pada bait pertama pengarang mengakhiri tiap-tiap kalimat dengan sajak yang sama yakni (ng), walaupun pada baris ketiga diakhiri dengan (a), namun nada pada bait pertama masih terasa sangat indah. Pengarang memilih (ng) untuk mengakhiri tiap-tiap baris dimaksudkan agar pembaca semangat dan merasa senang ketika membaca puisi ini. Penggunaan tanda koma pada baris kedua dan keempat dalam bait pertama juga menambah indahnya peggunaan nada. Pada bait kedua, keempat barisnya diakhiri sajak (ng) atau dapat dikatakan a-a-a-a, sajak ini juga disesuaikan dengan bait pertama yang juga banyak diakhiri sajak (ng). pada bait selanjutnya pengarangf tidak begitu memperhatikan nada dan sajak, namun indahnya puisi ini masih terasa karena puisi ini termasuk puisi perjuangan yang bersifat semangat. 2. Suasana Ketika pembaca menyelesaikan pembacaanya, suasana yang didapatkan adalah suasana sedih, hal ini tergambarkan melalui penggunaan kata/pilih kata oleh pengarang. Kita akan merasakan sedih karena ada pahlawan yang gugur di medan perang demi mempertahankan tanah air, meninggal dalam usisa muda dan baru pada saat hari pahlawan, pejuang trsebut dikenang. G. Pengimajian Unsur imajinatif dalam puisi ini relatif sedikit. Hal ini dikarenakan pengarang menggunakan kata-kata denotatif yang bersifat lugas. Ada beberapa kata dan kalimat juga dalam karya ini yang perlu dikaji lebih jauh. Pada bait ketiga khususnya. Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sunyi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suasana menderu Dia masih sangat muda Pada bait ini pengarang lebih imajinatif, pembaca harus dapat menarik makna yang dimaksudkan oleh pengarang. Wajah sunyi disini tidak dapat diartikan secara denotatif. Akan tetapi pembaca harus mencari makna lain yang sesuai dengan frasa tersebut. Wajah sunyi yang dimaksudkan pengarang yakni wajah seorang pahlawan yang sudah meninggal. Setengah tengadah dapat dimaknai bahwa pahlawan ini gugur dengan hati bangga karena gugur dimedan perang. Kemudian klausa “Menangkap sepi padang senja”, ini juga penggunaan imjinaitif pengarang untuk menghidupkan suasana. Dapat diartikan bahwa pahlawan yang meninggal tersebut identitasnya tidak dikenal, sehingga pengarang menggunakan klausa “menangkap sepi padang senja”. Baris berikutnya “Dunia tambah beku ditengah derap dan suasana menderu”. Penggunaan majaspun dipakai oleh pengarang untuk mengimajinasikan idenya. Penggunaan majas dimaksudkan agar pembca benar-benar dapat memasuki makna puisi ini dan dapat betapa kasihan seorang pahlawan dalam usia muda sudah gugur di medan perang. Selain dalam bait ketiga, majas juga digunakan pengarang dalam bait lain, yakni dalam bait pertama. Penggunaan “Senyum bekunya mau berkata”, bait kedua “Kedua lenganya memeluk senapang”. Puisi ini sangat indah dengan adanya penggunaan majas dalam beberapa bait. Selain penggunaan majas, ada juga hal yang membuat puisi menjadi mengesankan. Seperti kita ketahui, dengan puisinya seorang penyair bukan sekadar memberi tahu tentang sesuatu, seperti yang tertera dalam puisinya, melaikan ingin mengajak pembaca merasakan seperti yang dirasakanya. Pengimajian tersebut dapat kita deskripsikan. • Sebuah lubang peluru bundar di dadanya (citraan penglihatan, seakan-akan kita dapat melihat, terbayang dalam angan-angan) • Kedua lenganya memeluk senapang (citraan penglihatan) • Wajah sunyi setengah tengadah (citraan penglihatan) • Menangkap sepi padang senja (citraan perabaan) • Dunia tambah beku di tengah derap dan suasana menderu (citraan perabaan) H. Ketidaklangsungan ekspresi puisi Penyair atau sastrawan umumnya sering dikatakan memiliki “bahasa sendiri” yang lain dari bahasa umum. Penilaian itu timbul karena sering dijumpai kata-kata yang tidak biasa digunakan pada umumnya. Dalam puisi PAHLAWAN TAK DIKENAL karya Toto Sudarto Bachtiar ini terdapat beberapa penyimpangan bahasa baik berupa penggantian arti, penyimpangan arti, ataupun penciptaan arti dan hal ini biasa disebut dengan ketidaklangsungan ekspresi puisi. 1. Penggantian Arti Dalam puisi PAHLAWAN TAK DIKENAL ini, terdapat beberapa kata yang mengalami penggantian arti. Penggantian arti tersebut dimaksudkan oleh pengarang untuk menemukan keindahan dalam sajaknya. Penggantian arti dalam puisi ini dilakukan dengan mempersamakan suatu hal dengan hal yang lain walaupun hal tersebut berlainan seperti yang terdapat dalam bait kedua. Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lenganya memelak senapang Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang Pada bait kedua baris keempat dalam puisi ini dapat kita lihat penggantian arti dari yang semula gugur atau meninggal oleh pengarang disampaikan dengan “Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang”. Begitu pula yang terjadi pada bait kelima baris pertama, gugur diperumpamakan dengan “Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring”. 2. Penyimpangan Arti Penyimpangan arti terjadi karena adanya ambiguitas, kontra diksi dan non sense. Dalam puisi PAHLAWAN TAK DIKENAL ini terdapat beberapa kata yang mengalami penyimpangan arti seperti yang terdapat pada bait ketiga. Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda Dalam bait ketiga itu dapat kita lihat frasa “wajah sunyi, dan menengkap sepi”, frasa tersebut tidak mempunyai arti secara linguistik atau dapat disebut pula frasa tersebut adalah frasa yang kontradiksi. 3. Penciptaan Arti Puisi karya Toto Sudarto Bachtiar ini dalam penulisanya menggunakan persajakan yang indah. Dalam membuat persajakan yang indah dalam puisi ini, Toto SudartoBachtiar menggunakan penciptaan arti untuk mendapatkan persajakan yang indah. Sebagai contoh dapat kita lihat pada bait kedua. Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lenganya memeluk senapang Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang Pada bait kedua ini dapat kita lihat dimana pengarang ingin membuat persajakan yang sempurna yakni: a-a-a-a. Oleh karena itu, dia menuliskan kata senapan menjadi senapang agar mendapat akhiran “ng” pada tiap barisnya yang pada akhirnya membuat persajakan menjadi a-a-a-a. I. Kode Sastra Puisi pahlawan tak dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar ini mengandung beberapa nilai/kode sastra. Karya ini, mengisahkan perjuangan seorang pahlawan masih muda yang gugur di medan perang. 1. Budaya Perjuangan tidak hanya bertempur di medan laga, dulu sebelum tanah air kita merdeka banyak pahlawan rela gugur untuk mempertahankan tanah air. Kita sebagai generasi penerus seharusnya dapat melanjutkan perjuangan lewat memajukan dan meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. Sebagai pelajar atau mahasiswa kita dapat melanjutkan perjuangan dengan belajar giat dengan memperhatikan semangat yang dimiliki oleh pejuang-pejuang kita. 2. Bahasa Bahasa merupakan tulang punggung karya sastra. Tidak mungkin ada karya sastra jika tidak ada bahasa. Dengan demikian, semua karya sastra indonesia yang tidak mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa tersebut (kecuali dalam hal-hal khusus atau yang memungkinkan) tidak akan dapat dipahami oleh pembacanya. Menurut kaidah bahasa Indonesia kata pahlawan tak dilenal berarti seorang pejuang/ pahlawan yang namanya tidak diketahui. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring. Kata terbaring disini dapat diartikan tidur, bisa di atas kasur ataupun diatas lantai. Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang. Kata senyum beku dapat diartikan senyum untuk selama-lamanya. Dapat diartikan bahwa pahlawan yang tidak dikenal meninggal dunia pada waktu perang dengan keadaan bangga.

DESA SUKAKALI

Jojon, Jono, dan Joni adalah tiga orang sahabat yang
beda ayah, beda ibu, beda kakek, beda nenek, tapi satu
sekolah sama-sama sekolah di SD Sukakali, satu desa
sama-sama tinggal di desa Sukakali, satu bangsa, dan
satu negara yaitu Indonesia. Mereka bertiga juga
selalu sama-sama ke sekolah dengan berjalan kaki dan
sama-sama nyebur ke kali atau anak sungai yang
memisahkan rumah mereka dan sekolah mereka. Kok
sama-sama nyebur kali sih ? mereka mau ke sekolah atau
mau berenang, hihihi. Ternyata eh ternyata mereka
emang kudu nyebur ke kali kalo mau sampe sekolah
karena eh karena kagak ada jembatan sih, ya
satu-satunya cara nyebur gitu lho emang bisa loncat
dengan jarak panjang 10 meter kayak gini.
“Jono, capek juga ya kalo ke sekolah selalu copot
baju, copot sepatu, trus nyebur ke kali sambil
mengangkat baju, sepatu dan tas sekolah di kepala
kayak gini. Wah kita malah masuk angin nih bukannya
masuk sekolah lagi. Kamu ada ide gak gimana caranya
kita ke sekolah tanpa nyebur kali ?”tanya Joni pada
Jono yang berjalan dibelakangnya.
“Iya ya kalo gini terus kita sering nggak masuk
sekolah karena masuk angin, sering nggak masuk sekolah
entar nggak lulus unas. Wah rugi dong kita.”jawab
Jono.
“Kamu tuh ditanyain ide malah mikir nggak lulus
unas, nggak lulus beneran baru tahu rasa lu. Aku tahu
kenapa kita ini nggak dibuatin jembatan gantung hingga
kita jadi sengsara kalo mau ke sekolah. Ini semua
gara-gara nama desa kita sih ?”sahut Jojon.
“Gara-gara nama desa kita ???”Jono dan Joni kompak
kagetnya dengan nada dasar C hihihihi.
“Iya salah nama desa kita. Kenapa desa ini dinamai
Desa Sukakali sih, jadinya mulai dari pamong desa
sampe warga-warganya sangat menyukai kali. Liat aja
ibumu kalo mau ke pasar inget kali kan, belanja di
pasar apung kayak di Kalimantan tuh. Mbok Minah mau
nyuci baju, nyuci di kali. Bang Endun mau makan inget
kali, mancing ikan dulu di kali buat lauk. Pokoknya
mau apa-apa selalu inget kali kayak kali minded
gitu.”jawab Jojon seenak udelnya.
“Semprul lu! Gue kira lu serius. Dasar lu udah nama
kayak pelawak, ngelawak lagi. Eh tapi tampangnya sih
beda, lebih cakep Jojon pelawak daripada lu.”semprot
Jono.
“Kupret lu!Pake njelek-njelekin gue lagi.”sungut
Jojon.
“Hahahahaha…sudah-sudah kok malah pada tengkar
sih. Kalian nih ama gokilnya tahu. Udah nggak kasi
ide malah olok-olokan.”Jono melerai dua sohibnya
yang aneh bin ajaib idup lagi itu.
“Hari Minggu kan ada rapat di balai desa nih, kita
dateng aja trus ngungkapin perasaan kita yang paling
dalam bahwa kita sebagai penerus bangsa nih sangat
sengsara dengan rutinitas cebur kali ke sekolah tiap
hari. Siapa tau pak lurah mau ngabulin buat jembatan
gantung.”usul Jono sok puitis itu.
“Bener Jono gue setuju ama usul lo. Kita harus satu
tekad, satu hati buat kepentingan semua temen di
sekolah. Gue jadi inget ama pepatah yang bunyinya
‘Rajin-rajinlah ke sekolah biar pinter’ bukannya
‘Basah-basahlah ke sekolah biar seger’.”ujar
Jojon.
Hahahahahaha…..mereka tertawa bersama menuju ke
sekolah, dengan segernya.

Manchester United

Manchester United F.C. (biasa disingkat Man Utd, Man United atau hanya MU) adalah sebuah klub sepak bola papan atas di Inggris yang berbasis di Old Trafford, Manchester,

Dibentuk sebagai Newton Heath L&YR F.C. pada 1878 sebagai tim sepak bola depot Perusahaan Kereta Api Lancashire dan Yorkshire Railway di Newton Heath, namanya berganti menjadi Manchester United pada 1902.

Meski sejak dulu telah termasuk salah satu tim terkuat di Inggris, barulah sejak 1993 Manchester United meraih dominasi yang besar di kejuaraan domestik di bawah arahan Sir Alex Ferguson – dominasi dengan skala yang tidak terlihat sejak berakhirnya era Liverpool F.C. pada pertengahan 1970-an dan awal 1980-an. Sejak bergulirnya era Premiership di tahun 1992, Manchester United adalah tim yang paling sukses dengan dua belas kali merebut trofi juara.

Meskipun sukses di kompetisi domestik, kesuksesan tersebut masih sulit diulangi di kejuaraan Eropa; mereka hanya pernah meraih juara di Liga Champions tiga kali sepanjang sejarahnya (1968, 1999, 2008).

Sejak musim 86-87, mereka telah meraih 22 trofi besar – jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara klub-klub Liga Utama Inggris. Mereka telah memenangi 19 trofi juara Liga Utama Inggris (termasuk saat masih disebut Divisi Satu). Pada tahun 1968, mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil memenangi Liga Champions Eropa, setelah mengalahkan S.L. Benfica 4–1, dan mereka memenangi Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya pada tahun 1999 dan sekali lagi pada tahun 2008 setelah mengalahkan Chelsea F.C. di final. Mereka juga memegang rekor memenangi Piala FA sebanyak 11 kali.[4] Pada 2008, mereka menjadi klub Inggris pertama dan klub Eropa kedua yang berhasil menjadi Juara Dunia Antarklub FIFA.

Pada 12 Mei 2005, pengusaha Amerika Serikat Malcolm Glazer menjadi pemilik klub dengan membeli mayoritas saham yang bernilai £800 juta (US$1,47 milyar) diikuti dengan banyak protes dari para pendukung fanatik.